Lompat ke konten

Refleksi Rabu Abu: Mengawali Prapaskah dengan Doa, Puasa, dan Amal Kasih

Pada hari Rabu, 5 Maret 2025, YPAK mengadakan perayaan Ekaristi Rabu Abu yang menandai dimulainya masa Prapaskah. Perayaan ini dipimpin oleh Romo Bonifasius Benny Bambang S., Pr dan dihadiri oleh berbagai kalangan umat, mulai dari pelajar, guru, karyawan hingga masyarakat umum.

Rabu Abu adalah momen penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik, di mana umat diajak untuk merenung dan memulai perjalanan rohani yang penuh penyesalan dan pertobatan selama masa Prapaskah. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah dengan hati yang lebih bersih dan penuh syukur.

Rabu Abu, yang sering diidentifikasi dengan pemberian abu di dahi umat, adalah simbol pertobatan dan penyesalan atas dosa. Dalam perayaan tersebut, Romo Benny mengingatkan umat untuk menjadikan Prapaskah sebagai waktu untuk memperdalam iman, memperbaiki diri, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, puasa, dan amal kasih.

Pemberian abu ini mengandung makna mendalam yang merujuk pada kata-kata “Ingatlah, engkau dari debu dan akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19). Dengan mengenakan abu di dahi, umat diajak untuk menyadari fragilitas hidup manusia dan pentingnya pertobatan sejati dalam mempersiapkan diri untuk perayaan Paskah yang penuh sukacita.

Dalam khotbahnya, Romo Benny menekankan pentingnya merenungkan makna pertobatan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk tidak hanya fokus pada ritual luar, tetapi juga pada perubahan hati yang sejati. Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama, serta berusaha hidup lebih sesuai dengan ajaran Kristus.

“Prapaskah bukan hanya soal berpantang dari makanan atau kebiasaan, tetapi juga berpantang dari kebiasaan yang menghalangi kita untuk lebih dekat dengan Tuhan, seperti kebencian, iri hati, dan ketidakpedulian terhadap sesama,” ujarnya dalam khotbahnya.

Perayaan Ekaristi ini berlangsung dengan khidmat, dan dihadiri oleh berbagai kalangan umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka mengikuti dengan penuh perhatian dan melaksanakan pemberian abu dengan penuh rasa hormat, sebagai tanda tekad untuk memulai perjalanan rohani yang baru. Sebelum berakhir, umat diberi kesempatan untuk menerima berkat dan doa pertobatan, sebagai langkah awal menuju Paskah yang lebih bermakna.

Perayaan Ekaristi Rabu Abu di Gereja Athanasius Agung Karangpanas Semarang menjadi momen refleksi yang penting bagi umat Katolik. Ini adalah saat yang tepat untuk memulai perjalanan rohani yang mendalam, yang membawa umat kepada pertobatan dan perubahan hati menjelang perayaan Paskah.

Semoga dengan semangat yang dibawa oleh perayaan ini, umat semakin dekat dengan Tuhan dan dapat menjalani masa Prapaskah dengan penuh pengharapan dan pertobatan sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *